Waktu menunjukkan pukul 02;00 pagi, tapi aku masih belum tidur. Masih di atas kasur dalam kamarku yang sumpek. Mungkin bantal sudah bosan dengan sikapku yang dari sore tadi membalik-balikkannya. Aku dihantam ribuan gelisah. Baru sekarang aku lebih bisa mngendalikan diri.

Aku menggenggam hand phone dengan penuh kebingungan. Dalam pikiranku bertarung rasa ingin menelepon dengan sms. Jika aku menelepon, nyaliku mengecil. Karena aku tak berani mengatakannya secara langsung. Tapi jika aku kirim sms, mungkin aku lebih berani. Tapi rasanya kurang menunjukkan bahwa aku seorang lelaki.
Kebingungan inilah yang membuatku gelisah sedari sore tadi. Aku tak pernah punya perasaan seperti ini sebelumnya. Aku diam terpaku memikirkan apa yang seharusnya aku lakukan. Sekitar lima belas menit pikiranku hilang dari kepalaku. Tiba-tiba ada suara mengagetkanku. Mengembalikan pikiranku ke kepalaku.

“Hey! Sedang apa kau ini? Kau sungguh bodoh.”

“Suara siapa itu?” tanyaku terkaget sambil melihat ke semua sudut kamar.

“Benar-benar kau bodoh. Kau tidak tahu siapa aku?” katanya dengan nada sedikit membentak.

“Hey, kau! Jangan jadi pengecut! Tunjukkan siapa dirimu!” sentakku tak mau kalah.

“Bukankah yang pengecut itu kamu?” katanya sinis.

“Apa maksudmu?”

“He…! He..! He…! Kau itu pengecut tak punya nyali untuk ungkapkan persaanmu pada wanita itu.” jelasnya sambil menertawakanku.

“Hey! Kau ini siapa?”

“Aku ini cinta. Aku ada di dirimu.”

“Apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau mengatakan aku bodoh?”

“Aku datang untuk memohon padamu. Dan karena itulah kenapa aku anggap kau bodoh.”

“Apa maksudmu?”

“Aku ingin kau mengenalkanku pada wanita itu. Dan betapa bodohnya kau hingga aku memohon padamu untuk dikenalkan padannya.”

Aku terdiam, aku semakin bingung dengan adanya dia. Tapi sebenarnya memang itulah yang aku ingin lakukan. Mengenalkan cintaku pada wanita itu.

“Lalu bagaimana caranya?” tanyaku sedikit menuntut.

“Itu juga kenapa aku bilang kau bodoh. Kau kan sedang pegang hand phone, telepon saja dia!”

“Ini sudah pagi. Lagi pula aku takut. Yang pasti aku tidak berani mengungkapkan perasaanku langsung padanya.”

“Baiklah! Kau kan bisa kirim dia sms?”

“Apa yang harus aku tuliskan padanya?”

“Aku bukan lahir dari jari-jemari, bukan pula datang dari mata, bukan muncul dari mulut, apa lagi menetas dari pikian. Tapi aku tercipta dari perasaan. Perasaan itu terletak di hati. Kau tak perlu berpikir apa yang harus kau katakan padanya. Perkataan itu akan keluar dengan sendirinya dari hatimu.”

Aku kembali terdiam. Mencoba memahami perkataannya. Aku mulai mengerti apa yang dimaksudkannya. Lalu aku mantapkan hati untuk mencoba menuliskan perasaanku pada wanita itu melalui sms.

“Baiklah, aku akan mencoba menuliskannya.?

“Itulah yang aku harapkan. Silakan kau meneruskan apa yang hendak kau lakukan! Aku akan pergi sejenak, nanti aku akan kembali lagi setelah kau menyelesaikannya.”

“Tunggu! Tunggu! Bagaimana aku bisa menuliskan semua perasaanku jika kau keluar dari hatiku?”

Cinta terdiam sebentar, lalu tertawa kecil. “He…! He…! iya ya? Ya sudah, aku kembali ke dalam hatimu. Tapi kau harus segera menyelesaikannya!”

Setelah cinta masuk kembali dalam hatiku, aku langsung mengambil hand phoneku dan mencoba menuliskan semua perasaan yang ada dalam hatiku. Tak kusangka ternyata mengungkapkan perasaan bisa semudah ini. Tanganku terus saja menuliskan sms dengan sendirinya tanpa didikte pikiranku.

Tak kurasa kantukku mulai memberat, mataku semakin sayu. Tapi tanganku terus saja menuliskan kata-kata yang tanpa aku sadari sudah menghabiskan lebih dari 600 karakter. Kelopak mataku perlahan-lahan menutupi seluruh bagian mataku. Tak terasa aku tertidur.

Pukul 7;30 pagi aku dibangunkan oleh suara berisik ibu yang memang sengaja membangunkanku.

“Kamu itu kayak Singa Masai. Tidur dua puluh empat jam sehari. Ayo bangun! Kamu kan mesti kuliah.”

“Uh, Ibu ini kok ngebandingin anaknya sendiri sama hewan sih? Kayak iklan toko makanan luar negeri saja?” lirihku pelan.

“Habisnya kamu itu kerjanya tidur melulu.” jawab ibu seakan mendengar perkataanku.

“Waduh! Hand phoneku mana?” Tiba-tiba aku teringat tulisanku yang semalam belum sempat aku baca. Aku mencari hand phoneku ke sekeliling kamar. Sementara itu ibu keluar.

“Nah, akhirnya ketemu juga!” aku merasa lega karena hand phoneku ketemu di bawah selimut. Lalu aku lihat pesan yang aku tuliskan semalam yang ternyata belum aku kirimkan. Aku membacanya kata demi kata. Betapa kagetnya aku setelah membaca pesan yang aku tuliskan.

Bidadariku
Aku bingung harus dari mana memulai perkataan ini.
Yang pasti perasaanku ingin memilikimu.
Keindahanmu membutakan mata hatiku.
Di mataku engkau bagai bidadari yang sedang mandi di sungai-sungai surga.
Betapa tak ingin berkedipnya mataku melihat tubuhmu tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhmu.
Keindahan tubuhmu sungguh membuat keinginanku memilikimu.

“Apa-apaan ini?!” Bentakku keras. Entah kepada siapa aku membentak. Dalam pikiranku saat itu hanya ada cinta yang semalam telah mendiktekan tanganku menuliskan sms ini.

“Cinta! Cinta! Di mana kamu?” tanyaku dengan nada membentak.

“Ada apa? Aku di sini.” Jawab cinta seperti ketakutan.

“Coba kau baca sms ini! Apa-apaan ini?”

Cinta hanya terdiam. Aku semakin kesal dengan sikapnya. “ Hey! Jawab pertanyaanku! Kau kan yang memerintahkan tanganku menulis ini?” Bentakku.

“Sungguh! Sungguh bukan aku yang memerintahkan tanganmu menuliskan itu.” Bela cinta ketakutan.

“Bukankah semalam kau yang ada di dalam hatiku?”

“Iya. Semalam saat aku masuk ke dalam hatimu di sana sudah ada nafsu. Aku berusaha terus masuk. Tapi dia terus melawanku. Aku tak sanggup melawannya. Karena dia lebih besar dari aku. Sungguh aku tak bisa melawannya.”

“Tapi aku tak sedikit pun merasa memiliki nafsu. Apa lagi untuk aku berikan pada wanita itu. Yang ingin aku berikan itu kamu.”

“Aku tahu. Tapi dia lebih menguasai hatimu.”

“Bukankah dia ada karena memang berasal darimu? Kenapa kau tak bisa lebih menguasai dia?”

“Kau jangan berperasangka begitu! Aku tak akan pernah menyatu dengan nafsu dan nafsu bukan berasal dari aku. Nafsu ada bukan karena aku. Jadi aku tak bisa menguasai dia. Hatimu sendirilah yang seharusnya menguasai dia. Hatimu yang harus memilih siapa yang lebih luas ditempatkan di dalamnya. Ingat! Hatimu adalah tempat perasaan. Jika tempat itu dikusai nafsu berarti perasaanmu kepada dia tak lain adalah nafsu.”

Aku hanya bisa terdiam. Entah mengapa aku bisa menuliskan seperti itu. Mungkin benar apa yang dikatakan cinta. Aku menjadi benci kepada diriku sendiri yang belum bisa menguasai nafsu. Seharusnya aku lebih bisa membesarkan rasa cinta, bukan nafsu.

Dengan rasa benci aku menghapus sms itu. Aku merasa harus menguasai nafsuku sebelum mengenalkan cinta pada wanita manapun.